Pohon Aren: Kaya Manfaat dan Prospek Saat Menjelang Ramadhan
Pohon Aren atau enau atau Arenga pinnata bisa tumbuh baik di iklim tropis, seperti Indonesia. Pohon yang mirip dengan kelapa dan mampu tumbuh menjulang hingga ketinggian 25 meter ini, ternyata mampu menghasilkan beragam produk dan manfaat yang tentu saja bernilai ekonomi tinggi. Tak hanya gula aren dan kolang-kaling yang selalu hadir di meja makan saat ramadhan. Pohon aren kaya manfaat dan prospek saat menjelang ramadhan, sebab pohon aren dapat dimanfaatkan sebagai campuran obat dan bahan baku kerajinan. Tertarik mengembangkan pohon aren ini? Berikut fakta dan nilai ekonomi pohon aren.
Pohon aren umumnya tumbuh liar di daerah pegunungan atau hutan sampai ketinggian 1.400 dpl. Biasanya pohon aren ini tumbuh subur di daerah yang lembab dan dekat dengan aliran sungai. Pohon ini memiliki manfaat yang luar biasa, mulai dari akar yang bisa digunakan untuk campuran obat herbal, batang bisa untuk kebutuhan rumah, ijuknya bisa digunakan untuk pembuatan sapu atau atap, daunnya digunakan untuk pembungkus rokok, air nira yang disadap bisa dibuat minuman dan gula aren, sedangkan buah atau bijinya dapat dibuat kolang-kaling atau cengkaleng (sunda) yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Masyarakat disini biasanya memiliki pohon aren tidak di satu tempat. Kadang pohon aren mereka di atas bukit dan di bukit sebelah. Seperti saya, beberapa pohon aren saya berada di dekat rumah, namun di atas bukit saya juga memiliki pohon-pohon aren,” ungkap bu Kesih salah satu warga Pagerbatu, Banjar Patroman yang membudidakan pohon aren untuk kolang-kaling ini, kepada www.wartawirausaha.com
Proses Pembibitan dan Perawatan Pohon Aren yang Mudah
Pohon-pohon aren yang ditemukan di daerah perbukitan Pagerbatu umumnya telah tumbuh menjulang dan berdiameter lebih dari 50 cm. menurut penuturan Kesih, pohon-pohon ini ada sudah lama bahkan sejak kakek nenek masyarakat sini. “Biasanya pohon aren yang dimiliki masyarakat disini biasanya sudah turun temurun, dan sudah ada sejak lama. Kita selaku anak-anaknya hanya meneruskan dan mengelolanya saja.” Tambah Kesih.
Proses pembibitan untuk mendapatkan pohon aren baru, masyarakat Pagerbatu ini ternyata masih menggunakan sistem tradisional. Kesih menuturkan, biasanya masyarakat akan mengambil tunas-tunas pohon aren yang tumbuh secara tidak sengaja di sekitar pohon aren. Tunas aren kemudian dipindahkan ke polybag atau pot plastik selama 2-4 minggu, namun saat pengambilan tunas diusahakan dengan mengambil tunas bersama tanah-tanahnya.
“Merawat pohon aren itu cukup mudah, apalagi kalau pohon aren telah mencapai usia 1 tahun ke atas. Kita tinggal membersihkan pohon dari gulma yang menggangu. Kendala pohon aren umumnya ada dua, kalau tidak hama penyakit yang menyerang ya gulma. Namun itu sangat jarang terjadi disini, umunya jika pohon aren bersih dari gulma, pohon tersebut juga akan tahan tergahadap hama.” Lanjut kesih.
Gula Aren dan Kolang-kaling
Dibantu olah sang suami, setiap hari pohon aren miliknya selalu disadap niranya untuk kemudian dibuat gula aren.
“Kalau menyadap nira, kami lakukan setiap hari. Air nira ini tidak ada harganya, namun setelah melalui pengolahan dan menghasilkan gula aren, maka gula aren tersebut akan menghasilkan uang. Berbeda dengan biji aren atau enau, yang bisa laku dijual kepada para pembuat kolang-kaling atau cengkaleng, tanpa proses pengolahan terlebih dahulu,” ungkap kesih.
Namun, Kesih sangat jarang menjual biji aren, justru sebagai salah satu warga yang dikenal sebagai pembuat kolang-kaling, Kesih sering kewalahan jika mengandalkan biji-biji aren dari pohon aren miliknya sendiri. “Saya kalau bulan Ramadhan sering membeli biji aren ke tetangga yang memiliki pohon aren, biasanya satu pohon aren saya borong 150 – 200 ribu. Satu pohon, mampu menghasilkan 1 kwintal kolang-kaling berkualitas bagus.” Cerita Kesih.
Berbeda dengan membuat gula aren, membuat kolang-kaling sebenarnya cukup mudah. Biji aren yang masih mudah dimasak atau dikukus dalam tong khusus selama kurang lebih 2 jam. Setelah direbus, biji aren kemudian dikupas dengan menggunakan pisau khusus. Setelah dikupas dibersihkan menggunakan air bersih yang mengalir, lalu di angin-anginkan. Untuk menghasilkan kolang kaling yang bersih dan kenyal, biji kolang-kaling yang sudah dikupas kemudian direndam dengan air kapur selama 2-3 hari.
Tips Mengolah Biji Aren
“Ketika memasak biji aren harus benar-benar matang, kalau tidak, air yang tercampur getah aren bisa membuat kulit menjadi gatal. Para tengkulak atau penjual biasanya langsung datang ke rumah untuk mengambil kolang-kaling, biasanya kami jual kolang-kaling seharga 4000 – 5000 rupiah. Saat mendekati bulan ramadhan, produksi kolang-kaling biasanya mampu mencapai 70 kilogram dalam satu hari.”ujar kesih yang setiap bulan ramadhan selalu mencari buruh harian untuk membantu mengupas kolang-kaling ini.
Kendala yang dirasakan Kesih serta masyarakat petani aren di Pagerbatu sebenarnya adalah masih minimnya sosialisasi informasi tentang budidaya aren dari pemerintah setempat. Masyarakat masih menggunakan sistem tradisional, dimana pohon aren masyarakat masih tersebar di perbukitan dan hutan. Dimana dalam mengelola pohon-pohon aren ini menjadi tidak efektif, karena jaraknya yang saling berjauhan.
Jauh sebelum masa kemerdekaan, prospek emas si pohon Aren ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh seorang sunan penyebar agama Islam di pulau Jawa, yaitu sunan Bonang. Suatu ketika, sunan Bonang hendak dirampok, oleh begundal Lokajaya. Namun, beliau berkata kepada perampok tersebut, “kalau ingn harta banyak maka lihatlah pohon aren itu,” ujarnya sambil menunjuk ke sebuah pohon aren. Maka, begundal itu langsung kaget dan lemas ketika melihat pohon aren ditumbuh biji-biji emas yang bergelantungan. So, sebuah cerita rakyat ini dengan jelas mengabarkan jika dibalik pohon aren sebenarnya menyimpan potensi yang luar biasa.
Ahmed
Latest posts by Ahmed (see all)
- Wirausaha Bisnis Komputer di Computer Exhibition Solutions 2015 - Friday, 30 October 2015
- Wirausaha yang Sukses Jangan Pelit Berbagi Ilmu - Thursday, 29 October 2015
- Beranjak Tua tapi Ia Tetap Menjaga Semangat Wirausaha - Sunday, 25 October 2015






