Wirausaha Suami Istri ini Memberikan Kesan Anak Muda Pada Jamu
“Di samping bikin jamu peras, ibu itu bikin jamu kering yang direbus, lalu racikan mandi rempah,” Natalia Dewi (26 tahun) menceritakan kemampuan ibu mertuanya “Lulur itu ibu belum pernah bikin tapi ibu tahu resepnya, jadinya aku yang ngorek ngorek. Ibu itu bisa bikin apa aja sebenarnya, tapi karena ga ada waktu, akhirnya nanti aku yang bikin” Dewi melanjutkan ceritanya pada wartawirausaha.com. Mertua Natalia Dewi adalah Ibu Tari, seorang peracik jamu tradisonal yang cukup ternama di wilayah Yogyakarta.
Memiliki latar belakang desain grafis, Natalia Dewi dan suaminya, Baskoro Latu memasuki dunia wirausaha yang sama sekali baru, dunia wirausaha jamu. Keduanya intensif belajar kepada Ibu Tari. Hasil belajar pun mulai dipraktekkan. Baskoro dan Dewi mengambil kesimpulan, bahwa mereka berdua harus melakukan diferensiasi pasar. Anak muda menjadi target utama produk usaha mereka berdua. Pengemasan, produk, dan pemasaran yang berbau anak muda dilakukan. Kemasan dibuat semenarik mungkin. Wirausaha suami istri ini memberikan kesan anak muda pada jamu yang dijual melalui kemasannya. Produk yang dijual Dewi dan Baskoro juga difokuskan berbeda dengan produk yang dijual Ibu Tari. Selain jamu, Dewi dan Baskoro menjual lulur, racikan mandi rempah, racikan pembersih vagina, dan racikan tradisional lain tapi dengan kemasan yang lebih akrab dengan anak muda.
Media sosial menjadi target utama pemasaran mereka. Sistem penjualan pun menggunakan delivery order, jemput bola. Jerih payah sebagai wirausaha jamu pun tercapai. “Per hari itu, sebelum menikah dan gencar-gencarnya promosi, rata-rata keluar 50 botol ukuran 250 ml. Tapi setelah menikah ini, karena kita hanya merawat pelanggan yang sudah ada, rata rata 30 botol ukuran 250 ml per hari,” ujar Dewi mengenai hasil pemasaran yang mereka berdua lakukan. “Kita persiapan mau buka warung jamu di daerah Bugisan,” lanjut Dewi memberikan alasan tidak berpromosi lagi di media sosial.
“Pernah ada ga sih warung jamu modern yang diperas di situ, seperti milik ibu, tapi buat nongkrong anak muda?!” ujar Dewi memberikan pertanyaan mengapa ia dan suaminya tertarik membuka warung jamu. Diferensiasi pasar menjadi anugrah tersendiri bagi wirausaha suami istri ini. Anak muda menjadi konsumen utama jamu-jamu mereka. “Orang yang biasa minum jamu ibu, lalu minum jamu kita, biasanya ga doyan. Kalo yang minum jamu kita, lalu minum jamunya ibu, biasanya ga doyan juga. Jadi kita sudah punya pasarnya sendiri,” jelas Dewi mengenai perbedaan konsumennya dengan konsumen jamu Ibu Tari.
Latest posts by Danoe Santoso (see all)
- Menikmati Racikan Bumbu Wirausaha Kuliner Jogja - Thursday, 31 December 2015
- Wirausaha Wanita Indonesia yang Mendunia - Wednesday, 2 December 2015
- Wirausaha Muda Agrobisnis Indonesia - Tuesday, 1 December 2015











bermanfaat sekali artikelnya 🙂