Membangkitkan rasa percaya diri wanita
Pengantar redaksi: Artikel ini adalah terjemahan bebas dari artikel yang ditulis Carol Sankar dengan judul “The Confidence Factor: The only woman in the room (my story)”. Carol Sankar adalah konsultan bisnis yang berpengalaman menangani perusahaan-perusahaan besar. Anda dapat menjumpai Carol Sankar di web pribadi carol sankar. Beliau juga intens terhadap isu wanita dan terutama membangkitkan rasa percaya diri wanita wirausaha. Perhatiannya pada rasa percaya diri wanita membuatnya menciptakan formula “The Confidence Factor” yang ia sebarkan melalui website The Confidence Factor for Women in Leadership.
Pada awal tahun ini, saya diminta untuk membawakan presentasi saya yang berjudul “Faktor percaya diri seorang wanita” di sebuah seminar organisasi yang melatih para pembicara. Presentasi saya tersebut akhirnya diadakan di bulan mei 2015. Tujuan presentasi itu adalah menciptakan perubahan bagi para pembicara baru yang sedang mencari cara menciptakan hubungan yang memiliki nilai dengan pendengarnya.
Sangat sederhana!
Saya seharusnya berada di panggung. Tapi saya melakukan diskusi beberapa kali dengan wakil presiden organisasi, dan akhirnya kami berkesimpulan bahwa para pembicara baru ini sering merasa kurang percaya diri saat menghantarkan nilai pada para pendengarnya, padahal mereka mendapatkan honor besar sebagai pembicara dan juga mendapatkan laba penjualan produk selama 45 menit sebagai pembicara. Sebenarnya, bagi saya, menghantarkan nilai merupakan hal yang sangat sederhana. Seperti yang pernah saya lakukan di banyak organisasi lain dan perusahaan-perusahaan yang masuk kategori Fortune 500.
Saat hari H
Saya datang di waktu yang ditentukan dan berada di kenyataan jika saya satu-satunya orang di ruangan seminar. Acara seminar ini diadakan bagi tamu-tamu kelas VIP dan beberapa tamu undangan khusus, dan saat saya membuka pintu, saya mendapatkan kenyataan jika saya satu-satunya orang di ruangan ini. Ruangan acara seminar sebenarnya penuh peserta, tetapi saya satu-satunya wanita di ruangan itu. Lebih ekstrim lagi, saya satu-satunya wanita etnis afro-amerika di ruangan itu. Saya satu-satunya wanita afro-amerika yang mengenakan baju seharga lima juta rupiah dan sepatu baru yang terasa membunuh saya pagi itu. Saya melihat seluruh ruangan dan menyadari saya akan berbicara mengenai perempuan, walaupun sebenarnya, rasa percaya diri adalah tema utamanya.
Saya merubah sikap
Bagaimanapun, ketika rasa percaya diri datang, tak ada yang perlu ditakutkan. Ritme “faktor percaya diri” bisa diaplikasikan bagi semua orang, tetapi para pria harus tahu mengenai perasaaan ketakutan kita sebaik mungkin. Sebagai perempuan, kita berusaha menyimpan ketakutan untuk diri kita sendiri dan berusaha saling mendukung melewati rasa takut itu. Saya tidak takut berdiri di depan sekian banyak para peserta seminar tersebut, tapi saya menyadari saya harus menggunakan mikrofon untuk memastikan nilai-nilai yang saya miliki dapat menyebar ke semua peserta di ruangan itu. Setelah kata pertama saya keluarkan, saya merasa saya bukan satu-satunya wanita di ruangan, tapi saya merasa seperti para peserta seminar.
Stop menunjukkan ketakutan
Sebagai wanita, kita membiarkan rasa takut membatasai derajat diri kita. Kita membiarkan rasa takut menghalangi kita melihat sekian ratus pria yang ada dalam sebuah ruangan. Kita membiarkan rasa takut menghalangi kita mengirimkan kata-kata yang akan berpengaruh pada hidup ratusan pria itu. Kita membiarkan rasa takut menghalangi kita menjadi wanita yang berpengaruh karena kata-kata. Saat kita melihat nilai-nilai berharga diri kita yang lebih dari sekedar wanita, barisan penghalang rasa takut tidak akan menghalangi pertumbuhan derajat kita. Percaya dirilah setiap saat dan jika anda satu-satunya wanita di sebuah ruangan, tingkatkan nilai diri anda dan perbedaan akan segera pergi saat itu juga.
Latest posts by Danoe Santoso (see all)
- Menikmati Racikan Bumbu Wirausaha Kuliner Jogja - Thursday, 31 December 2015
- Wirausaha Wanita Indonesia yang Mendunia - Wednesday, 2 December 2015
- Wirausaha Muda Agrobisnis Indonesia - Tuesday, 1 December 2015










