Peluang Usaha Rumahan Makanan Oleh-oleh Lempeng Beras
Menyantap sajian nasi pecel paling maknyus jika dalam sajian diikutkan kerupuk puli atau biasa dikenal dengan lempeng beras. Rasa lempeng yang gurih dan renyah akan membaur dengan sajian sambal pecel yang pedas manis. Sungguh akan menjadi sajian nikmat yang pas dilidah dan saling melengkapi. Dibalik cita rasa yang khas itu, ternyata lempeng beras bisa menjadi sumber peluang usaha rumahan yang potensial karena selain bahan baku dan proses pembuatannya tidak membutuhkan modal besar, juga mampu menghasilkan omset yang maksimal sebagai makanan pendamping nasi pecel dan camilan oleh-oleh.
Kerupuk puli atau lempeng sebenarnya dengan mudah bisa ditemukan di berbagai wilayah di pulau Jawa, namun cita rasa lempeng yang terbuat dari beras atau nasi ini memang tidak ada yang bisa mengalahkan lempeng dari kota Madiun. “Lempeng Madiun dikenal dengan rasanya yang gurih dan renyah. Hal ini karena lempeng Madiun dibuat dengan mengunakan bumbu yang khusus. Lempeng ini sangat pas disajikan bersamaan dengan nasi pecel atau sekedar buat camilan saja.” Ungkap Gufron, salah seorang pembuat lempeng beras asal Dungus, Madiun.
Tidaklah terlalu sulit mencari pengusaha lempeng di kota Madiun. Hampir di sudut-sudut tempat bisa ditemukan pabrik pembuatan lempeng ini. Yang unik, pabrik-pabrik pembuatan lempeng ini ternyata masih banyak yang berbasis industri rumah tangga atau usaha rumahan. Untuk rasa, jika lidah tidak peka maka kita bisa dibuat kesulitan membedakan produk lempeng dari pabrik yang satu dengan pabrik lainnya.
“Yang membedakan rasa lempeng satu dengan yang lain adalah kadar bumbu atau rasa. Ada yang mengutamakan kerenyahan sebagai ciri utamanya, ada yang mengutamakan bentuk, kalau lempeng produksi saya memiliki rasa dari bumbu asli serta kerenyahan alami. Saya menghindari pengunaan MSG atau perasa serta menghindari borak sebagai pengembang lempeng.” Ujar pria yang sudah menekuni membuat lempeng sejak sepuluh tahun ini. Rasa dan kualitas merupakan nomor satu yang terus dipertahankan Gufron. Karena itulah, dia kerap mengikuti seminar yang diadakan oleh pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan potensi lempeng beras miliknya. Dulu, Gufron pernah mengandalkan borak untuk membuat lempeng bisa mengembang dengan maksimal. Namun setelah mengikuti seminar, diapun tahu bahayanya borak dan MSG bagi konsumen bila digunakan secara berlebihan.
“Sudah sejak beberapa tahun silam saya mulai mengganti borak dengan STTP atau zat pengembang yang lebih aman digunakan untuk makanan. Agar rasa tetap terjaga, saya tidak pelit dalam penggunaan bumbunya. Jika biasanya pembuat lempeng beras jarang ada yang menggunakan bawang putih, maka saya justru menggunakan campuran bawang putih dan ketumbar untuk menimbulkan rasa gurih di lempeng.” Tambahnya.
Pembuatan lempeng sendiri sebenarnya tidak terlalu ribet. Gufron menjelaskan, hal pertama dalam membuat lempeng beras ini adalah dengan membuat bahan utamanya terlebih dulu, yaitu nasi. Setiap hari, Gufron mengaku menanak nasi sampai 15 kg, sebagai bahan baku utama lempeng beras ini. Disamping nasi, bumbu-bumbu dapur yang perlu dipersiapkan juga adalah bawang merah, bawang putih, ketumbar maupun garam.
“Jika nasi sudah lemas, nasi kemudian dihancurkan atau dilembutkan dengan mesin khusus. Saat proses pelumatan ini, dimasukkan bumbu dan STTP. Setelah nasi menjadi lembut dan tercampur dengan bumbu, nasi ini kemudian di pres dengan mesin pengepres, sehingga akan keluar dari mesin, inilah empeng basah yang siap di jemur.” Ujar pria yang telah memiliki pengalaman bekerja di pabrik lempeng sebelum memutuskan ber-wirausaha sendiri. Proses terakhir, yaitu penjemuran, menurut gufron, jika saat itu terdapat panas yang bagus, maka proses penjemuran hanya sampai setengah hari, karena dalam setengah hari biasanya lempeng sudah kering. Namun, jika saat tiba musim penghujan, proses pembuatan lempeng ini akan bertambah lama karena sedikit terkendala pada proses penjemuran.
“Kendala utama dalam proses pembuatan lempeng ini adalah musim. Jika musim hujan, maka biasanya lempeng akan sukar kering. Karena itulah, kami berharap ada tehnologi tepat guna yang bermanfaat untuk membuat lempeng tetap bisa kering sempurna meskipun masuk musim hujan. Selain musim, kendala lain bisa dibilang tidak ada.” Ungkap pemilik perusahaan lempeng dengan merk Mawar ini. Dengan bahan 15 kg, Gufron mengaku tiap hari mampu memproduksi 40 – 50 bungkus lempeng mentah siap jual. Namun, menurut Gufron dengan catatan kalau tidak masuk musim hujan. Per bungkus dengan berat 3 ons, biasanya dijual seharga Rp 7.500 ke konsumen dan toko oleh-oleh yang banyak ditemukan di wilayah Madiun, Caruban dan Nganjuk. Tak hanya melayani pemesanan dari masyarakat setempat, Gufron juga kerap melayani pesanan dari berbagai kota, seperti misalnya Surabaya, Jogja maupun Jakarta.
“Untuk pemasaran sejauh ini tidak ada kendala yang berarti. Dulu saat pertama kali memproduksi lempeng beras ini, saya terus terang kesulitan dalam hal pemasaran. Tiap toko kerap menolak, namun perlahan-lahan lempeng kami mulai diterima masyarakat. Saat ini, pemasaran utama saya ada di pasar-pasar tradisional yang ada di sekitar.” Ujarnya.
Ahmed
Latest posts by Ahmed (see all)
- Wirausaha Bisnis Komputer di Computer Exhibition Solutions 2015 - Friday, 30 October 2015
- Wirausaha yang Sukses Jangan Pelit Berbagi Ilmu - Thursday, 29 October 2015
- Beranjak Tua tapi Ia Tetap Menjaga Semangat Wirausaha - Sunday, 25 October 2015










